Cart is Empty
Help
Kubah Masjid Nabawi
Kubah Bergerak Masjid Nabawi
Payung-payung Raksasa
Di antara nama-nama Zamzam:
Suqya Isma`il, Shafiyah, Mubarakah, Salimah, dan Thahirah.
Para khalifah dan raja dari masa ke masa menaruh perhatian yang sangat besar pada sumur Zamzam, dan hal ini tetap berlanjut di era negara Saudi, mulai dari era pemerintahan Raja Abdulaziz yang pada tahun 1345 H memerintahkan pembangunan sabil (fasilitas penyediaan air minum) Zamzam. Kemudian pada tahun berikutnya dia memerintahkan pembangunan sabil Zamzam yang kedua, merenovasi sumur dan menutupnya. Pada era Raja Salman, tepatnya pada tahun 1439 H, Raja Salman menandatangani persetujuan untuk melanjutkan pekerjaan sumur Zamzam, dan membangun lima saluran untuk layanan khusus air Zamzam.
Dinas pengelolaan air minum Zamzam:
Tata kelola sumur Zamzam terus dilakukan dan ditingkatkan, supaya air Zamzam bisa disajikan kepada jamaah haji dan umrah sesuai standar kualitas tertinggi.
Laboratorium Zamzam:
Makkah Al-Mukarramah, daerah terbaik dan yang paling dicintai Allah dan Rasul-Nya.
Ash-Shan (Pelataran Thawaf di Sekeliling Ka’bah): Shahn Ka’bah atau tempat thawaf merupakan lantai yang terbuat dari marmer putih dan mengelilingi Ka’bah yang mulia. Saat ini dinamakan Ash-Shan (piring). Umat Islam melakukan thawaf di sekeliling Ka’bah yang mulia. Dinamakan juga dengan Al-Mathaf, yaitu lingkaran putaran sekeliling Ka’bah yang mulia.
Serambi Abbasiyah: Sejarah pembangunan Serambi Abbasiyah dimulai sejak masa Khalifah Abbasiyah Muhammad Al-Mahdi. Serambi ini mengalami sejumlah renovasi dan pengembangan dalam berbagai momen sejarah, juga dalam masa pengembangan Masjidil Haram oleh pemerintah Arab Saudi.
Perluasan Masjidil Haram: Para raja dari Kerajaan Arab Sadui sangat memerhatikan upaya renovasi dan perluasan Masjidil Haram agar dapat menampung para jamaah haji dan umrah yang terus bertambah. Proyek perluasan Masjidil Haram di Makkah Al-Mukarramah telah dimulai sejak tahun 1375 H.. Perluasan pertama ini kemudian diikuti dengan perluasan kedua pada tahun 1409 H dan perluasan ketiga pada tahun 1428 H.
Pelataran Luar: Pada perluasan kedua yang dilakukan oleh pemerintah Arab Saudi, dibuatlah pelataran yang besar dan luas di sekeliling Masjidil Haram dan dapat dijadikan tempat untuk shalat, khususnya pada waktu padat. Lantainya menggunakan marmer dingin yang dapat mengurangi hawa panas.
Atap Masjidil Haram Pada proyek perluasan kedua yang dilakukan oleh pemerintah Arab Saudi, atap Masjidil Haram juga dimanfaatkan, dimana atap/loteng tersebut dipasangi marmer dingin. Dalam proyek perluasan ketiga, dipasanglah tangga bergerak (eskalator) untuk mengangkut jamaah shalat ke loteng dan lantai pertama pada musim padat.
Pintu-pintu Masjidil Haram di Makkah: Ada begitu banyak pintu masuk Masjidil Haram. Masing-masing mempunyai nomor tersendiri. Di atas pintu-pintu tersebut terdapat lampu petunjuk yang dapat dilihat dari jauh untuk mengetahui apakah ini pintu masuk atau pintu keluar.
Lima Pintu Utama Masjidil Haram:
Tugas-tugas terpenting dinas halaman Masjidil Haram:
Di antara layanan dan fasilitas terpenting di area pelataran Masjidil Haram:
Hindari hal-hal berikut di pelataran Masjidil Haram:
Simbol-simbol tempat thawaf, antara lain:
Ka’bah yang mulia: Ka’bah merupakan kiblat umat Islam, sekaligus jantung hati mereka. Thawaf dalam rangka ibadah kepada Allah hanya boleh dilakukan di sekeliling Ka’bah.
Maqam Ibrahim: Ia merupakan batu yang dipijak oleh Ibrahim alaihissalam ketika membangun Ka’bah yang mulia. Ia merupakan salah satu tanda-tanda kekuasaan Allah yang tampak jelas di Masjidil Haram. Sebagaimana firman Allah; Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim;
Ka’bah merupakan Baitullah yang mulia. Ia merupakan bangunan yang agung menurut umat Islam. Ia mempunyai kedudukan yang besar dan sejarah yang mulia. Nabi Ibrahim yang bergelar “Khalilullah” membangunnya bersama putranya Ismail alaihimassalam. Ia merupakan rumah Allah pertama di muka bumi yang dibangun untuk beribadah hanya kepada-Nya, tiada sekutu baginya. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.”
Ia merupakan kiblat umat Islam sekaligus jantung hati mereka. Thawaf dalam rangka ibadah hanya dilakukan di sekeliling Ka’bah.
Ka’bah mempunyai sejumlah simbol yang dilihat oleh orang yang sedang melakukan thawaf, yaitu:
Al-Hathim (Hijr Ismail): Ini adalah tempat terbuka yang berbentuk setengah lingkaran yang terdapat di samping Ka’bah. Sebagian darinya merupakan bagian dari Ka’bah, sehingga shalat di situ sama dengan shalat di dalam Ka’bah.
Pintu Ka’bah: Pintu Ka’bah terletak di bagian timur Ka’bah. Saat ini ia terbuat dari emas murni. Letaknya sekitar 222 cm dari atas permukaan tanah.
Al-Multazam: Ia merupakan dinding Ka’bah bagian timur, atau bagian darinya. Ia terletak di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah.
Pengertian Multazam adalah: Orang yang berdoa meletakkan dada, wajah, lengan dan dua telapak tangannya ke dinding ini, lalu ia berdoa kepada Allah Ta’ala dengan doa-doa yang mudah ia sampaikan. Namun, hal itu sulit dilakukan dalam beberapa musim atau di waktu padat.
Al-Mizab: Ia merupakan bagian yang terpasan di atap Ka’bah untuk menyalurkan air. Dari situ air turun ke Hijr Ismail.
Asy-Syadzarwaan: Ia merupakan bangunan pelengkap Ka’bah. Ia mengelilinginya tak ubahnya kain sarung. Ia bukan bagian dari Ka’bah. Namun ia dibangun dengan tujuan menguatkan bangunan Ka’bah dan melindunginya dari banjir. Ia terlindungi selama bertahun-tahun. Saat ini ia dibungkus dengan marmer berwarna putih.
Hajar Aswad: Hajar Aswad termasuk batu yang berasal dari surga, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam . Ia merupakan tanda permulaan sekaligus akhir thawaf. Nabi Shallallahu alaihi wasallam mengembalikannya ke tempatnya, ketika kaum Qurays berselisih pendapat tentang siapa yang paling berhak untuk mengembalikannya ke tempatnya. Hal itu terjadi setelah mereka selesai membangun ulang Ka’bah sekitar sebagian bangunannya rusak akibat hujan.
Rukun Yamani: Rukun Yamani merupakan salah satu dari empat rukun Ka’bah yang mulia. Ia dinamakan dengan “Yamani” karena ia terletak dari arah Yaman. Rukun Yamani dan Hajar Aswad dinamakan juga “Dua Rukun Yamani”.
Tempat thawaf terbagi dalam:
Daya Tampung Tempat Thawaf:
Jamaah dapat mencapai lantai-lantai tersebut melalui jalur khusus sesuai dengan arahan para petugas keamanan. Jamaah haji dan umrah hendaknya bekerja sama dan mematuhi arahan para petugas.
Apa itu Shafa dan Marwah?
Yaitu dua bukit kecil yang dulu pernah didaki oleh Hajar (ibunda Ismail alaihissalam) untuk mencari makanan atau air.
Informasi tempat sa’i dengan angka:
Jumlah Lantai Tempat Sa’i
Tempat sa’i terbagi menjadi beberapa lantai dengan luas 87.000 meter persegi, yaitu:
Salah satu keutamaan Masjidil Haram Makkah adalah bahwa shalat di dalamnya sama dengan seratus ribu shalat di tempat lain. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Dan shalat di Masjidil Haram lebih utama dari seratus ribu shalat di tempat lain.”
Keutamaan ini mencakup semua masjid di Makkah dan unit-unitnya yang berada di dalam area Tanah Haram. Keutamaan ini juga mencakup shalat wajib dan shalat sunnah.
Di saat-saat ramai dan musim, seperti pada bulan Ramadhan misalnya, penduduk Makkah dan orang-orang yang bermukim di Makkah dapat shalat di masjid mana pun di dalam batas-batas wilayah Tanah Haram, dan dengan demikian mereka tetap mendapatkan pahala besar shalat di Tanah Haram.
Bangunan Lama Masjid
Sarhaat dan Hashwaat
Raudhah Syarifah
Proyek Perluasan
Tempat Shalat untuk Perempuan
Pelataran Luar
Mihrab adalah tempat imam shalat menghadap kiblat di dalamnya. Ada beberapa mihrab Masjid Nabawi sepanjang sejarah.
Setelah kiblat berpindah ke Baitullah yang mulia, Nabi Shallallahu alaihi wasallam menguah mihrab dari utara ke selatan masjid. Kemudian mihrab itu dimajukan hingga di ujung batas proyek perluasan pada masa Khalifah Umar bin Khatthab radhiyallahu anhu, yang letaknya di wilayah selatan. Lalu, letak mihrab berpindah pada saat perluasan masjid di masa Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu anhu.
Mihrab Masjid Nabawi Ada sejumlah mihrab Masjid Nabawi sepanjang sejarah, di antaranya yang terpenting adalah:
Kamar Nabi (Shallallahu alaihi wasallam) yang Mulia adalah Rumah Beliau Ia terletak di sebelah tenggara Masjid Nabawi. Ia dinamakan dengan Hujrah Syarifah (kamar yang mulia). Nama terkenalnya adalah Al-Muwajahah Asy-Syarifah. Ia adalah rumah Nabi Shallallahu alaihi wasallam yang beliau tinggali bersama Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anhuma. Allah telah memuliakan Aisyah radhiyallahu anha dengan menjadikan kamar beliau sebagai kuburan Nabi Shallallahu alaihi wasallam dan dua sahabat beliau Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khatthab radhiyallahu anhuma.
Nabi (Shallallahu alaihi wasallam) Wafat di Hujrah Syarifah
Kubah Hijau Hari ini kita dapat kubah hijau terpasang di atas sebagai tanda letak kamar (rumah) beliau. Ia dibangun dengan menggunakan warna hijau pada tahun 1253 H.
Hari ini, di atas bilik mulia (tempat Nabi Muhammad SAW dimakamkan) di Masjid Nabawi, kita menemukan Kubah Hijau yang khas, sebagai tanda letak bilik yang mulia. Kubah ini dicat hijau pada tahun 1253 H.
Mereka yang datang ke Masjid Nabawi dapat melihat menara dan Kubah Hijau dari kejauhan, terutama dari arah selatan, yaitu “Jalan Al-Hijrah,” atau dari arah timur, yaitu “Jalan Al-Malik Abdulaziz,” di mana tidak ada bangunan yang menghalangi pandangan.
Kubah ini sebelumnya tidak ada di atas makam Nabi Muhammad SAW sampai abad ketujuh Hijriyah. Kubah ini baru dibangun pada masa pemerintahan Sultan Qalawun, dan pada awalnya warnanya adalah warna kayu, kemudian diganti menjadi putih, kemudian biru, kemudian hijau.
Kubah ini dikenal dengan nama Al-Baidah’, Al-Faiha’, dan Az-Zarqa’, kemudian disebut Al-Qubbah Al-Khadhra’ (Kubah Hijau).
Sebagai bagian dari perawatan berkesinambungan terhadap bilik yang mulia, cat kubah ini akan diperbarui setiap kali warnanya mulai berubah dan memudar karena faktor cuaca.
Bagian paling menonjol dari bangunan masjid tua yang dapat kita lihat saat ini adalah
Pintu-pintu Masjid Nabawi memesona jamaah dan pengunjung dengan keindahannya yang sangat menawan dan ukiran-ukirannya yang begitu sempurna. Pintu-pintu tersebut dibuat dengan spesifikasi internasional dan teknis tertinggi.
Semua pintu Masjid Nabawi diberi nomor dengan angka yang jelas di samping setiap pintu, dan Anda dapat mengakses pintu yang Anda inginkan dengan mengetahui nomor pintu.
Pintu-pintu pelataran Masjid Nabawi juga dilengkapi dengan nomor yang ditempatkan pada pintu gerbang tembok pagar luar pelataran masjid. Nomor-nomor pintu gerbang pagar tembok ini berbeda dengan nomor pintu Masjid Nabawi.
Sebagian besar pintu dapat diakses dengan kursi roda. Tersedia juga kursi-kursi portabel untuk lansia dan mereka yang membutuhkannya di sebelah pintu-pintu utama di dalam masjid
Pelataran atau halaman Masjid Nabawi adalah area luas yang disiapkan untuk jamaah shalat, ditutupi dengan payung-payung yang membuka dan menutup secara otomatis untuk melindungi jamaah shalat dari sinar matahari, ditambah dengan ventilasi dan kipas angin kabut untuk menyejukkan udara buat jamaah shalat.
Terdapat 262 payung raksasa di pelataran Masjid Nabawi, dan tembok pagar sepanjang 2270 m yang mengelilingi pelataran. Terdapat sejumlah pintu gerbang di tembok pagar ini. Pintu-pintu gerbang tersebut berbeda dengan pintu-pintu Masjid Nabawi.
Luas pelataran: 235.000 meter persegi
Kapasitas: 450.000 jamaah
Peringatan saat shalat dan berjalan di pelataran Masjid Nabawi
Pemakaman Al-Baqi’
Lokasi Pemakaman Al-Baqi’
Kenapa Dinamakan Al-Baqi’
Mengunjungi Makam Al-Baqi’
Apa yang Diucapkan Ketika Mengunjungi Pemakaman Al-Baqi’
Apa Makna Haram?
Apa yang Dimaksud Haram bagi Saya?
Makkah adalah Kiblat Kaum Muslimin:Makkah Al-Mukarramah, daerah terbaik dan yang paling dicintai Allah dan Rasul-Nya.